twitter
rss

Foto: Mahathir Rizki, salah satu korban 'cuci otak' yang kini mengaku berada di Semarang, Jawa tengah. Dia sudah mengaku masuk NII dan siap mendirikan Negara Islam Indonesia.

MALANG, KOMPAS.com — Kasus cuci otak yang menimpa 15 mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) belum tuntas terselesaikan. Bahkan, kini pihak kampus dikabarkan melarang mahasiswa yang menjadi korban untuk berbicara kepada media.

Tak hanya itu, tersiar kabar pihak UMM sudah mulai merasa terganggu dengan kasus ini. Pasalnya, masa penerimaan mahasiswa baru kian mendekat.

Larangan bagi korban untuk memberi komentar diakui Ismed Jayadi, paman dari Mahathir Rizki, salah satu korban yang kini berada di wilayah Jawa Tengah dan dikabarkan telah aktif dalam organisasi Negara Islam Indonesia.

Sejak Rabu (20/4/2011) malam, salah satu korban cuci otak, yakni Muhammad Hanif, yang nyaris di-baiat di Jakarta, sudah tidak bisa dihubungi awak media. Dikabarkan, ada ancaman akan dikeluarkan dari kampus bagi mereka yang berbicara kepada media.

"Setahu saya, handphone M Hanif sekarang sudah tak bisa dihubungi. Nomor teleponnya sudah tidak aktif. Informasinya, Hanif tidak boleh bicara ke media lagi," kata Ismed, Jumat (22/4/2011) siang.  "Mungkin kampus khawatir para calon mahasiswa takut untuk masuk UMM. Dan bisa saja kampus mulai melakukan pencitraan," sambungnya.

Nomor ponsel Hanif  yang coba dihubungi Kompas.com, pagi ini, memang kini sudah tidak aktif.
Namun, semua tuduhan tersebut dibantah Kepala Bagian Hubungan Masyarakat UMM Nasrullah. "Informasi itu tidak benar. Pihak UMM tidak pernah melarang para korban bicara ke media. Tetapi untuk sementara korban diminta agar fokus dan berkonsentrasi ke UTS (ujian tengah semester) yang saat ini masih berlangsung," katanya.

Nasrullah mengatakan, pihak orangtua korban pun meminta kepada pihak kampus agar anak-anak mereka tidak memberi komentar kepada media. "Bukan dilarang oleh kampus. Kalau sudah selesai UTS, silakan diwawancarai lagi para korban itu," kilahnya tegas.

Sementara terkait dengan kabar adanya ancaman pemecatan dari kampus bagi mahasiswa yang bersaksi kepada media, Nasrullah pun membantahnya. "Wah, kabar itu sangat tidak benar. Pihak UMM tidak pernah mengancam para korban kalau diketahui komentar ke media akan dikeluarkan," tegasnya lagi.

Ia menambahkan, pihak UMM telah menurunkan tim khusus yang terdiri dari sejumlah dosen dan mahasiswa senior yang bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mengawasi perkembangan kasus ini.

0 komentar:

Posting Komentar