twitter
rss


Semarang, Warta Kota
Motivator, Jamil Azzaini mengatakan, mahasiswa jangan hanya berkutat dengan aspek akademis perkuliahannya, karena keberhasilan tidak bisa hanya diraih dengan mengandalkan sukses secara akademis.
"Aspek akademis hanya memiliki persentase sekitar 20 persen dalam menentukan keberhasilan dalam kehidupan," katanya, dalam pelatihan kepribadian "Meraih Impian Melalui Proposal Hidup dan Pergaulan", di Semarang, Sabtu.
Pada pelatihan yang diprakarsai Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro Semarang itu, ia menjelaskan, 80 persen penentu kesuksesan dalam hidup justru aspek non-akademis, seperti keaktifan dan mental mahasiswa.
Permasalahannya, kata dia, sistem pendidikan, baik di sekolah maupun kuliah sama-sama berorientasi pada hal-hal yang bersifat akademis, padahal mahasiswa dan siswa lebih banyak menghabiskan waktunya di luar lingkungan sekolah.
Menurut dia, mahasiswa yang sangat pintar secara akademis, seperti indeks prestasi komulatif (IPK) sangat bagus, namun tidak bisa mengaplikasikan apa yang didapatkan di bangku kuliah dalam kehidupan nyata, tentunya percuma.
"Ibaratnya, mahasiswa itu hanya jadi `perpustakaan berjalan`, karena pada dasarnya pendidikan yang didapatkan di bangku kuliah dan sekolah tidak terlepas dari dunia nyata," kata alumnus dan dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.
Karena itu, kata Jamil, mahasiswa harus mengasah kemampuan berinteraksi dalam kehidupan, misalnya dengan memperluas pergaulan dengan kawan-kawan di kampus, namun harus memilah pergaulan yang bergerak ke arah positif.
"Kalau pergaulannya positif, kawan-kawannya baik, pasti akan menularkan hal-hal yang positif. Demikian juga anak saya, saya ajarkan, kuliah jangan sekadar kuliah, namun cari sisi positif lain, cari relasi yang banyak," katanya.
Kalau relasi kuat, kata dia, bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif lainnya, seperti memulai bisnis karena jalinan relasi yang kuat juga menjadi modal utama dan bisa menjadi kunci kesuksesan dalam membangun bisnis.
"Asal mentalnya kuat, memiliki jiwa kepemimpinan (leadership), punya arah dan tujuan dalam hidup, bisa sukses. Hambatan-hambatan mental, seperti merasa miskin, tidak memiliki keterampilan apa-apa harus dihilangkan," katanya.
Di hadapan sekitar 600 mahasiswa baru itu, ia mengatakan, manusia harus memiliki impian untuk meraih prestasi terbaik di bidang tertentu untuk bisa sukses, karena dengan itu merasa ada sesuatu yang harus dikejar dan harus didapatkan.
"Jangan merasa tidak bisa karena miskin, tidak memiliki keterampilan apa-apa, jangan juga berpandangan biarlah seperti air yang mengalir. Namun, hidup harus diarahkan, harus punya impian dan keinginan," kata Jamil. (Ant/apr)
Baca Selengkapnya...